5 Sterotype Mahasiswa Fakultas Sastra yang ada di Masyarakat

5 Sterotype Mahasiswa Fakultas Sastra yang ada di Masyarakat

Kuliah di jurusan dan fakultas apa saja sebenarnya baik dan mulia. Apalagi kalau tujuannya untuk mengembangkan diri melalui minat yang tersimpan pada bidang terkait jurusan atau fakultas tempat kuliah.

Tapi, nyatanya ada beberapa stereotype yang sering melekat pada seseorang karena masuk pada jurusan tertentu.

Sebagai contoh; seseorang dikatakan pintar, hebat dan cerdas bila bisa menaklukan test atau ujian masuk Fakultas Kedokteran sebuah universitas ternama.

Akibatnya, ada beberapa Fakultas atau jurusan kuliah yang kurang favourable. Dampaknya tentu saja dari sekian banyak mahasiswa jurusan tersebut mendapat pandangan-pandangan tak sedap bahkan dianggap bukan mereka yang punya talent atau bakat unggul.

Salah satunya Fakultas Sastra, yang kadang dianggap karena minimnya animo calon mahasiswa kuliah di Fakultas ini pandangan terhadap para mahasiswa sastra kerap minor.

Tentu tak semua orang beranggapan demikian.

Masih ada juga orangtua maupun calon mahasiswa yang karena kemauannya sendiri untuk masuk ke Fakultas Sastra tetap yakin bahwa fakultas yang satu ini juga tak kalah bergengsinya dengan fakultas dan jurusan lainnya.

Tak heran, banyak kampus-kampus bergengsi sekalipun masih punya Fakultas Sastra dan bahkan menjadi ciri akademik kampus tersebut.

Apakah diantara pembaca sekalian ada yang ingin masuk ke Fakultas Sastra di salah satu kampus di Indonesia?

Kalau jawabannya adalah ya, ada baiknya simak artikel kali ini yang akan menghadirkan detil tentang 5 hal yang mesti diketahui para calon mahasiswa sastra masa depan.

Inilah Streotipe Mahasiswa Sastra yang Bekembang di Masyarakat

Setiap Fakultas atau jurusan studi lahir karena memang ada pohon ilmunya. Termasuk juga Fakultas Sastra yang kerap diidentikkan dengan ilmu bahasa atau tata bahasa. Berikut ini adalah stereotipe mahasiswa sastra yang menyebar di kalangan umum.

  1. Mahasiswa Sastra, Kutu Buku

Bagi sebagian orang, sebenarnya julukan kutu buku kadang terdengar kurang sedap. Nyatanya, mereka yang kutu buku sebenarnya punya lebih banyak wawasan karena memang senang tenggelam dalam tumpukkan buku-buku untuk membaca. Julukan kutu buku, kerap melekat pada para mahasiswa sastra.

 

  1. Mahasiswa Sastra, Dijauhi Calon Mertua

Selepas kuliah, biasanya yang dipikirkan oleh fresh graduate atau para sarjana baru adalah mencari pekerjaan, selanjutnya mungkin menemukan pasangan dan menata hidup. Kerap beredar anggapan minor bahwa para mahasiswa sastra bukanlah pasangan idaman atau mungkin menantu idaman. Sebab lapangan pekerjaan mereka yang berkuliah di Fakultas Sastra tidak sejelas fakultas dari bidang ilmu lain, sebut saja teknik, ekonomi atau kedokteran.

 

Padahal ini tidaklah benar. Saat ini ada sangat luas pekerjaan dengan gaji menggiurkan bagi lulusan Fakultas Sastra, kalau mau sesuai dengna disiplin ilmu, editor di penerbitan atau media besar adalah salah satunya.

 

  1. Mahasiswa Sastra, Susah Lulusnya

Butuh setidaknya 4 tahun kuliah dengan setumpuk tanggung jawab belajar sampai seseorang dinyatakan lulus dari suatu fakultas dan mengenggam gelar sarjana.

 

Para mahasiswa sastra dianggap adalah penghuni kampus paling setia. Sebab kadang perlu waktu yang cukup lama sampai seseorang bisa menyabet gelar sarjana sastra.

 

Ini sebenarnya plus minus. Dari sisi keilmuan ini membuktikan kalau sastra bukan bidang ilmu yang mudah dikuasai. Perlu kedisiplinan diri untuk menjadi seorang sarjana sastra.

 

Tapi minusnya, bisa jadi mahasiswa tersebut tak lulus bukan karena tidak mampu menguasai keilmuannya tetapi malas belajar. Hal yang sama juga bisa terjadi pada mahasiswa dari fakultas manapun.

 

  1. Mahasiswa Sastra, Salah Jurusan

Sebelum masuk universitas perlu mengikuti test atau ujian masuk. Tujuannya untuk menentukan apakah orang tersebut mampu melewati standar sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi atau passing grade.

 

Akibat adanya passing grade ini, kadang orang mendiskreditkan mereka yang tak mampu masuk jurusan populer dan padat peminat. Sebagai salah satu program studi dengan peminat yang bila dibandingkan dengan program studi lain kalah peminat, mahasiswa sastra kerap dianggap masuk Fakultas Sastra hanya karena punya peluang diterima lebih besar.

Baca juga : Berkenalan dengan Buku ‘Silly Gilly Daily’ Karya Naela Ali

Ini tentu tidaklah benar. Banyak kampus dan universitas ternama yang sangat selektif dalam memilih mahasiswa sebelum dinyatakan bisa berkuliah di Fakultas Sastra yang ada di kampus itu.

 

  1. Mahasiswa Sastra, Susah cari Kerja

Ini yang kadang menyakitkan bagi anak fakultas sastra. Munculnya anggapan kalau tidak kuliah di jurusan yang banyak peminat atau sedang trend karena luasnya lapangan pekerjaan membuat orang kadang mendiskreditkan para mahasiswa dari jurusan-jurusan yang rendah peminat.

 

Termasuk bagi para mahasiswa sastra.

 

Tapi ini tidaklah benar. Di poin sebelumnya sudah diulas bahwa ada sangat banyak peluang kerja dengan gaji menggiurkan bagi para lulusan fakultas sastra. Terlebih yang memang memahami benar dengan ilmunya.

Setiap fakultas punya cirinya masing-masing. Kuliah juga sebaiknya tidak diawali karena keinginan atau tuntutan di luar diri sendiri. Kalau memang sastra adalah minat dan ketertarikan hidup, mengapa harus pusing dengan pikiran atau apa yang dibicarakan orang. Tinggal dijalani dan nikmati saja untuk membuktikan bahwa kemauan belajar apapun akan menjadikan seseorang sebagai pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.