7 Novel Terbaik Karya Pramoedya Ananta Toer

Novel Terbaik

Siapa yang tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Seorang penulis dengan tulisan-tulisannya yang berkaitan dengan pemerintahan hingga kritik sosial pada jamannya ini memang sudah melegenda. Tulisannya yang tak biasa ini sempat menjadi sorotan, bahkan beberapa di antaranya dilarang dipublikasikan pada jamannya.

Lelaki yang akrab di sapa Pram ini dulunya aktif sebagai penulis dan juga kolumnis. Tulisan yang dihasilkan oleh Pram tak hanya dalam bentuk cerpen namun juga dalam bentuk buku yaitu novel. Dari semua novel yang lahir dari tangan Pram, berikut 7 novel terbaiknya.

Novel terbaik dari tangan Pramoedya Ananta Toer

Novel termasuk bacaan yang tidak bisa sekali habis dibaca dalam sehari. Apalagi bahasan yang terkandung dalam novel tersebut membutuhkan cara berpikir yang ekstra, seperti karyanya Pramoedya seperti yang dijelaskan dibawah ini.

  1. Tetralogi Pulau Buru

Tetralogi Pulau Buru terdiri atas 4 buku yang masing-masing berjudul Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988). Keempat buku ini ditulis berdasarkan situasi dan kondisi yang dialami oleh Pramoedya yang pernah  ditahan pada tahun 1973 di Pulau Buru.

Bumi Manusia sebagai buku pertama dari tetralogi ini semakin marak diperbincangkan akhir-akhir ini. Pasalnya, buku ini akan segera dirilis dalam bentuk layar lebar oleh sutradara kenamaan Indonesia, Hanung Bramantyo.

  1. Bukan Pasar Malam

Novel yang pertama kali terbit pada tahun 1951 ini sempat dihentikan dan dilarang oleh pemerintah Indonesia setelah sekitar 14 tahun beredar, yakni pada tahun 1965. Uniknya, buku ini sempat diterbitkan di luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, bahkan hingga ke negeri Eropa seperti Belanda, Jerman, dan Prancis. Tahun 1999 barulah novel ini kembali diterbitkan di Indonesia dan juga tahun 2004.

Novel yang cukup berpengaruh  pada masa Orde Baru ini, menceritakan tentang perjalanan seorang pemuda yang harus pulang karena ayahnya yang terjangkit TBC. Bukan Pram rasanya kalau tidak mengangkat pergerakan-pergerakan revolusi pada masa itu. Sehingga wajar jika pada saat itu novel ini membawa pengaruh terhadap dunia politik Indonesia.

  1. Arok Dedes

Pernah mendengar kisah Ken Arok dan Ken Dedes pada pelajaran sejarah masa sekolah dulu? Ya, kisah mereka memang menjadi inspirasi Pram untuk mengangkat cerita berdasarkan latar belakang Kerajaan Singasari.

Pram mengangkat kisah Ken Arok dan Ken Dedes dari sisi yang berbeda. Novel ini menceritakan tentang kisah pemberontakan dan perlawanan yang dipimpin Ken Arok terhadap pemerintahan yang pada saat itu.

  1. Arus balik

Arus Balik mengangkat latar belakang tentang runtuhnya kerajaan majapahit sampai kemunculan Kesultanan Demak. Selain itu, permasalahan agama dengan adanya perubahan budaya Hindu-Buddha yang kemudian digantikan dengan masuknya Islam juga diceritakan dalam buku yang ditulis pada tahun 1995.

Para pembaca diajak untuk berimajinasi pada sengitnya pergulatan politik, agama, dan sejarah pada novel ini. Secara tidak langsung, novel ini pun dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi tersendiri bagi pembaca.

  1. Gadis Pantai

Gadis Pantai terbit pertama kali pada tahun 1970an. Novel ini tentunya menceritakan tentang seorang gadis yang hidup dan besar di pesisir pantai utara Jawa Tengah. Gadis itu kemudian menikah dengan seorang bangsawan yang pada akhirnya ditinggalkan oleh suaminya dan kembali ke kampung halamannya membawa rasa sedih dan juga malu.

Novel ini termasuk ringan dibanding novel Pram lainnya. Gambaran feodalisme pada saat itu cukup tergambar jelas di buku ini.

  1. Midah: Si Manis Bergigi Emas

Novel yang diterbitkan pada tahun 1954 ini mengisahkan tentang Midah berasal dari keluarga terpandang dan menjunjung tinggi agama. Ia memilih kabur dari rumah dan menjalani kehidupannya sendiri di ibukota.

Midah: Si Manis Bergigi Emas, merupakan novel yang mengangkat setting pada tahun1950-an. Konflik antara orangtua dan anak pada novel ini disusun dengan cukup baik. Pesan yang tersirat juga dapat menjadi pelajaran di kehidupan sehari-hari.

  1. Larasati

Sesuai dengan judulnya, tokoh utama dan sudut pandang pada novel ini adalah Larasati. Diceritakan bahwa Larasati yang seorang aktris mengalami perubahan hidup dikarenakan melihat seorang pemuda yang memiliki semangat besar dalam revolusi.

Novel ini terbit pada tahun 2000 pada saat Pram telah memasuki usia senja. Larasati juga termasuk novel yang memiliki rating cukup baik menurut versi Goodreads.

Dari penjelasan di atas, novel hasil karya Pramoedya memang terbilang tidak main-main. Dapat disimbulkan bahwa pesan yang disampaikan juga dapat menjadi pelajaran dan cerminan bagi para pembacanya.