Deretan Karya Sastra Bahasa Lokal Raih Anugrah Rancagé

Karya Sastra Bahasa Lokal

Karya sastra bahasa lokal dunia tanah air bisa dikatakan sedang mengalami perlambatan yang cukup mengkhawatirkan. Namun hal ini tidak menjadikan sastrawan-sastrawan Indonesia berhenti untuk berkarya.

Hal ini terlihat dari penyelenggaraan Anugerah Sastra Rancagé pada tahun 2018 lalu. Acara yang menjadi ajang apresiasi tokoh-tokoh berperan dalam bidang sastra tanah air ini diselelnggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Anugerah Sastra Rancagé sendiri telah berjalan sejak tahun 1989. Penghargaan yang diberikan terbagi menjadi 6 kategori berbeda. Kategori ini dikelompokkan berdasarkan bahasa daerah yang digunakan dalam karya sastra. Keenam bahasa tersebut adalah Jawa, Bali, Batak, Sunda Banjar dan Lampung.

Selain 6 kategori berdasarkan bahasa, sebuah penghargaan khusus juga didedikasikan untuk buku anak-anak dalam bahasa Sunda.Penghargaan ini sendiri dikenal dengan nama Hadiah Samsudi.

Karya Sastra Bahasa Lokal Raih Anugrah Rancagé

Ketujuh pemenang dari Anugerah Sastra Rancagé dapat Anda temukan pada pembahasan dibawah ini.

  1. Nazarudin Azhar (Kategori Sastra Sunda)

Nazarudin Azhar mendapat penghargaan Rancagé untuk kumpulan sajaknya yang diberi nama Miang. Miang sendiri berisi 70 sajak yang dirangkum menjadi satu buku dan berhasil menarik perhatian juri Penghargaan Sastra Rancagé. Tema dari Miang sendiri terbilang cukup unik, yaitu dunia agraris.

Melalui sajaknya Nazarudin Azhar memberikan gambaran yang ’mengindahkan’ dunia agraris beserta hal-hal kecil didalamnya. Melalui sajak-sajaknya Nazarudin Azhar menunjukkan bahwa tradisi Sunda Buhun belum mati ditelan jaman. Hal inilah yang membuat Miang mampu mengalahkan 15 buku lainnya yang juga masuk ke daftar nominasi.

  1. Suharmono K. (Kategori Sastra Jawa)

Kategori Sastra Jawa dimenangkan oleh Suharmono K melalui karyanya yang berjudul Kakang Kawah Adi Ari-Ari. Karya Suharmono K. ini adalah berupa cerita pendek atau cerkak yang ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa.

Kakang Kawah Adi Ari-Ari sendiri mampu mengalahkan 21 nominasi karya sastra lainnya yang ikut meramaikan kategori sastra Jawa. Banyaknya nominasi ini juga menunjukkan adanya pertumbuhan positif pada kususastraan Jawa, terlebih jika dibandingkan dengan kategori dari bahasa lain.

  1. Nirguna (Kategori Sastra Bali)

Kategori Sastra berbahasa Bali dimenangkan oleh Nirguna melalui karyanya Bulan Sisi Kauh. Prosa liris yang terbit pada tahun 2017 ini mampu memikat juri melalui kekuatan, kesegaran, dan orisinalitas yang dibawakan.

Bulan Sisi Kauh sendiri berarti bulan di sisi barat, dan berisi 44 prosa yang bertemakan pencarian jati diri. Kekuatan terbesar dari karya sastra ini adalah nilai filsafat yang sama kuatnya dengan nilai estetik yang berhasil dipadu oleh Nirguna serta dikalitkan dengan fenomena-fenomena aktual.

  1. Muhammad Harya Ramdhoni (Kategori Sastra Lampung)

Kategori sastra Lampung diemnangkan oleh Semilau, Sang Rumpun Sajak karya Muhammad Harya Ramdhoni.

Terdiri atas 65 sajak karya ini menjadi bukti bahwa Muhammad Harya Ramdhoni tidak hanya piawai membuat prosa. Kumpulan sajak ini menceritakan pengalaman personal dan sosial yang digambarkan melalui tokoh legendaris Skala Baka.

  1. Panusunan Simajuntak (Kategori Sastra Batak)

Untuk kategori sastra Batak dimenangkan oleh Panusunan Simajuntak melalui karyanya Bangsa na Jugul Do Hami. Melalui karyanya ini Panusunan memberikan gambaran tentang tanah kelahirannya yang saat ini telah mengalami kemerosotan dalam berbagai bidang.

Lihat Juga : Tips Mendapatkan Banyak Keuntungan dari Situs Poker Online Terbaru

Larya ini terdiri atas 75 elegi yang dianggap mampu memberikan gamabaran utuh tentang keadaan masyarakat Batak. Melalui puisi ratatapan yang ditulisnya, Panusunan Simanjuntak mengangkat garis besar watak orang Batakhingga berbagai yang dialami masyarakat Batak Toba saat ini.

  1. Hatmiati Masy’ud (Kategori Sastera Banjar)

Hatmiati Masy’ud melalui karyanya Pilanggur berhasil memenangkan pengahrgaan untuk kategori sastra Banjar. Karyanya tersebut mengangkat cerita mitos masyarakat Banjar dan menceritakannya secara estetik.

Pilanggur sendiri merujuk pada cerita perawan tua yang melanggar pantangan adat sehingga akhirnya mendapat kutukan. Disajiakan dalam bentuk cerpen, kisah Pilanggur dan 11 kisah lainnya disajikan dengan memukau dan mampu menarik perhatian juri.

  1. Tetti Hodijah (Hadiah Samsudi)

Hadiah Samsudi berhasil diraih oleh Tetti Hodijah melalui karyanya Ulin di Monumen. Karya ini berisikan 10 cerita pendek yang berkisah tentang lingkungan anak-anak. Penyampaian yang memaukau menjadikan karya ini akhirnya dipilih sebagai pemenang.

Demikian ketujuh pemenang pada Anugerah Sastra Rancagé yag diadakan pada September 2018 lalu.