Melihat Gusdur Sebagai Bapak Pluralisme Indonesia

Pluralisme Indonesia

Siapa di Indonesia yang tak pernah mengenal sosok Presiden Indonesia ke 4 yang akrab disapa dengan panggilan Gus Dur. Dr (H.C) K.H Abdurrahman Wahid adalah seorang pesohor di Indonesia dengan segudang prestasi serta pencapaian yang tentu tak banyak orang Indonesia mampu menandinginya.

Beliau bukan hanya sekedar Presiden Ke 4 Republik Indonesia, seorang Ulama besar, juga sosok Guru Bangsa.

Setiap pencapaian yang berujung pada penyebutan nama beliau (gelar) yang dianugerahkan pada dirinya bukanlah tanpa alasan. Ini memang disebabkan karena prestasi serta pencapaian beliau yang menjadikan bangsa Indonesia sebaga bangsa yang menghargai pluralisme, merubah dan tak sekedar secara informal sekaligus melembagakan dan melegitimasi perubahan tersebut.

Beliau, yang lahir di Jombang, Propinsi Jawa Timur, 7 September 1940 dan meninggal serta dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, bukan hanya punya kualitas sebagai seorang negarawan, namun seseorang yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa di balik segala kemajemukan yang ada.

“Gus Dur adalah pejuang reformasi, beliau selalu mengajarkan pada kita (Bangsa Indonesia) untuk terus menghargai pluralisme.

Beliau tak sekedar memberikan kesadaran pada kita sebagai bangsa tentang betapa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi identitas pluralisme ini.

Beliau juga mewujudkannya dengan melembagakan setiap ide, identitas dalam kemajemukan (seperti) etnis, kedaerahan juga kepercayaan dan agama di Indonesia.

Gus Dur tak lain, adalah bapak pluralisme juga multikulturalisme di Indonesia,” demikian seperti disampaikan Presiden Indonesia ke 6 Soesilo Bambang Yudhoyono atau SBY kala menuturkan obituari usai pemakaman Gus Dur di Komples Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Propinsi Jawa Timur, seperti dikutip dari salah satu media online yang terbit pada Kamis (31/12/2009) silam.

Pernyataan yang diberikan seorang Presiden ke 6 Republik Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono ini tentu saja berangkat dari berbagai fakta hidup seorang K.H Abdurrahman Wahid.

Fakta hidup yang sesungguhnya sangat menarik untuk diketahui secara mendalam dalam diri seorang bapak pluralisme dan multikulturalisme Indonesia, seorang Gus Dur.

Gusdur Yang Humoris, Pejuang Kemanusiaan Serta Futuristik

Ayah Gus Dur adalah seorang pahlawan nasional yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama pada masa pemerintahan Presiden Pertama sekaligus Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Ayah Gus Dur adalah putra dari seorang ulam besar, beliaulah Hadratussyekh Hasyim Asy’ari.

Kentaranya sifat Gus Dur yang identik dengan sangat menjunjung tinggi kemajemukan tidaklah lahir begitu saja. Ini adalah warisan darah yang diwariskan dari Ayahandanya yang memang sangat dikenal punya andil besar dalam merumuskan ideologi dasar bagi negara Indonesia yaitu Pancasila.

Perubahan sila pertama dalam Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang adalah perubahan pada frasa “Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya”, diketahui tak pernah lepas dari andil Ayahanda Gusdur, K.H. Abdul Wahid Hasjim.

Berlatar belakang hal ini pula, seorang K.H. Abdul Wahid Hasjim, dikenal sebagai seorang ulama, cendekiawan, dan politisi yang inklusif, substantif, sekaligus moderat.

Lahir dari seorang nama besar, Gus Dur tak serta merta menjadi Gus Dur yang dikenal banyak orang seperti saat ini. Beliau harus malang melintang untuk menuntut ilmu bahkan jauh ke Al-Azhar, di Kairo, Mesir. Pendidikan Gus Dur ke Universitas Al-Azhar pada kurun 1963 ini adalah untuk menuntut ilmu di bidang Studi Islam.

Yang unik dalam perjalan Gus Dur menuntut ilmu di Al-Azhar ini, meski beliau secara non-formal telah banyak belajar Bahasa Arab dan menjadikan mahir berbicara serat menulis dengan bahasa tersebut, hanya saja dengan tidak adanya bukti yang kuat terkait kemampuannya itu, Gus Dur musti ikut kelas remedial sebelum benar-benar bisa masuk ke kelas untuk menimba ilmu terkait bidang studi yang beliau pilih.

Sifat Gus Dur Yang Santai Jenaka dan Humoris

Gus Dur dikenal adalah seorang yang selalu riang, cenderung humoris dan bahkan kadang jenaka.

Beberapa tuturan yang kerap dilontarkan Gus Dur seperti,”gitu saja kok repot”, atau, “yaah, maunya gimana”, dan masih banyak lagi, adalah bukti kejenakaan dan tingginya sifat humor beliau.

Gus Dur Dan Pudarnya Kesan Angker Istana

Bila hari ini kita mendengar kedekatan antara Presiden ke 7 RI, Joko Widodo dengan rakyat. Sebenarnya di Indonesia telah banyak Presiden yang dari sejarahnya sangat dekat dengan rakyat. Ini tentu adalah Bung Karno, Presiden Pertama RI, serta tentu saja Gus Dur sendiri.

Gus Dur bukan hanya jenaka dan kerap tak bisa dilihat dengan kacamata awam yang alakadarnya untuk memahami sikap beliau. Sikap beliau adalah perwujudan kebersahajaan seorang kepala negara serta intelektual tingkat tinggi. Karena itu kerap menuai kontroversi.

Namun meski demikian, pendukung Gus Dur, yang bahkan hingga hari ini mengenang beliau lebih dari sekedar Presiden, namun adalah seorang tokoh Ulama besar, serta guru bangsa.

Memahami dan membahas Gus Dur tentu tak akan cukup dengan satu atau dua tinjauan saja. Beliau adalah sosok yang begitu karismatik sekaligus mantap dalam meletakkan dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Tak akan cukup bila disebutkan berapa banyak jasa Gus Dur dalam memberikan jalan terang bagi Indonesia yang modern dan berkeadilan sosial pada segala aspek.

Beberapa keputusan Gus Dur yang memang sangat penting dan diambil serta dijalankan dengan kapasitas Beliau sebagai seorang Presiden RI Ke 4 antara lain, membubarkan Kementrian Penerangan yang menjadi sumber legitimasi segala macam kebijakan pemerintah di masa Order Baru. Termasuk juga fungsi sebagai lembaga yang mengontrol pers yang ketat.

Dan tentu saja yang akan selalu dikenang dan menjadi ciri dari sekian banyak ciri Gus Dur sebagai seorang pribadi dengan penghargaan dan penghormatan tinggi terhadap kemajemukan adalah pada 2001 dengan mengumumkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional yang masuk dalam kalender periodik kenegaraan.