Mengenal Empat Jenis Autisme Pada Anak

Mengenal Empat Jenis Autisme Pada Anak

 Autisme adalah bagian psikologi anak yang selalu menarik untuk dipelajari. Khususnya di Indonesia, masih banyak yang menganggap bahwa autisme adalah hal yang sama dengan kelainan mental. Padahal, autisme bukanlah sebuah penyakit, melainkan sebuah kondisi.

Kondisi pada penderita autisme memang membutuhkan perlakuan khusus. Tetapi, seperti halnya dyslexia maupun hiperaktif, autisme tetap bisa berbaur dengan dunia sosial.

Namun sekali lagi, membutuhkan perlakuan khusus, bukan obat-obatan khusus.

Pengertian, Penyebab, dan Jenis-Jenis Autisme

Secara harafiah, autisme adalah suatu kondisi di mana seorang anak mengalami gangguan pada tumbuh kembangnya. Yang paling mudah dilihat sebagai gejala adalah ketika anak-anak mengalami kesulitan berbicara, memiliki masalah dalam interaksi dengan dunia sosial, dan cenderung seperti memiliki dunia imajinatif.

Jika dilihat dari ciri-cirinya, nampaknya semua hal itu dialami oleh semua anak yang sedang tumbuh. Memang benar, hanya saja anak-anak normal akan mampu mengatasi hambatan-hambatan tersebut di usia tertentu.

Ada beberapa hal yang bisa mendorong seorang anak mengidap autisme. Faktor utamanya adalah genetika. Lingkungan tempat tinggal juga memungkinkan terjadinya kondisi autisme. Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab autisme pada anak.

Mungkin ada anggapan bahwa pola asuh yang salah, pola makan, asupan gluten berlebihan, dan lainnya ditengarai sebagai pemicu kemunculan autisme. Padahal, mitos-mitos tersebut sudah terbukti secara medis tidak memicu kemunculan kondisi autis pada anak.

Sekarang, mengenai jenis-jenis autisme, ada perbedaan pendapat di kalangan kedokteran. Ada yang menyebut 6, ada yang menyebut 5, dan lain sebagainya.

Tetapi, secara umum, autisme bisa digolongkan ke dalam empat jenis, yaitu:

  1. Autisme Masa Kecil

Bahasa Inggrisnya adalah Childhood Disintegrative Disorder. Autisme jenis ini menciptakan suatu keadaan yang membuat anak mengalami kesulitan atau terlambat dalam hal perkembangan sensor motorik, tutur kata dan tata bahasa, hingga interaksi sosial.

Ciri-ciri tersebut biasanya muncul di usia 2 tahun atau lebih. Karena memang pada masa-masa tersebut menjadi momen balita mempelajari dan memaksimalkan semua hal terkait motorik, sensorik, dan interaksi.

Penyebab kondisi autis jenis ini adalah terjadinya kinerja saraf di dalam otak yang tidak sinkron. Banyak ahli menganggap bahwa autis jenis ini adalah tahap awal autisme yang bisa melebar ke jenis autisme yang lain.

Sebab, beberapa anak dengan kondisi autisme yang satu ini sempat mengalami atau menguasai kemampuan dasar seperti berbicara, motorik, hingga interaktif. Namun, secara perlahan kemampuan itu hilang.

  1. Sindrom Rett

Sindrom Rett merupakan gangguan tumbuh kembang yang hanya terjadi pada anak berjenis kelamin perempuan. Penyebab autisme jenis ini adalah murni kelainan genetik. Ditandai ketika berusia sekitar enam bulan, si bayi menunjukkan tanda-tanda kemunduran dalam perkembangannya.

Ciri yang mudah dilihat adalah bayi kesulitan mempertahankan kontak mata. Hal ini menunjukkan adanya gejala menarik diri dari lingkungan di luar dirinya sendiri. Kemudian, bayi menunjukkan rasa enggan untuk memainkan mainannya sendiri.

Pada perkembangannya, mungkin juga akan muncul keanehan dalam pertumbuhan motoriknya. Gerakkan pada tangan semakin lama terlihat tak terkendali, tanpa arah, bahkan cenderung hilang kontrol.

Timbulnya gerakkan tangan berlebihan tersebut adalah suatu sinyal akan terjadinya gangguan perspektivitas, ekspresi, dan komunikasi. Semakin usia bertambah, gangguan yang terjadi terhadap tumbuh kembangnya akan semakin banyak terlihat.

  1. Sindrom Asperger

Pengidap autis jenis ini seringkali tidak terdeteksi. Pasalnya, si penderita tidak menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan dalam masa pertumbuhan. Mereka juga cenderung mampu untuk melakukan berbagai hal sekaligus. Pemahaman belajar dan lain sebagainya juga tidak memiliki masalah.

Anak-anak dengan sindrom ini paling mudah ditandai dengan caranya berkomunikasi. Jika tata bahasanya berantakan, tidak runut, dan kurang bisa berkomunikasi dua arah, maka ada kemungkinan dia mengidap autis jenis ini.

Sindrom Asperger sendiri belum jelas ditemukan penyebabnya. Para ahli menganggap bahwa sindrom ini merupakan bawaan lahir, maupun adanya kondisi genetik yang diwariskan dari orang tuanya.

  1. Autistic Disorder

Bisa dikatakan bahwa anak-anak dengan kondisi autis umum ini, tidak mampu untuk memahami berbagai masalah dari sudut pandang di luar dirinya sendiri. Anak-anak dengan kondisi ini cenderung memiliki kebiasaan untuk ‘asyik sendiri’, dan marah tak terkendali ketika saat-saat menyenangkannya itu diganggu.

Kondisi ini, mayoritas bisa terjadi karena si anak tak mampu untuk mengkomunikasikan sisi emosional di dalam dirinya. Mereka tak bisa menentukan reaksi yang tepat untuk kondisi tertentu.

Pada akhirnya, luapan emosi itu tertahan dan teralih dengan imajinasinya. Itu sebabnya, ia akan meledak ketika imajinasinya itu diganggu.

Uniknya, banyak anak-anak dengan kondisi ini justru menunjukkan prestasi atau perkembangan yang baik untuk suatu bidang. Misalnya berhitung, kesenian, dan kasus yang paling umum adalah mereka memiliki daya ingat yang jauh lebih tinggi  jika dibandingkan dengan kebanyakan teman sebayanya.

Baca Juga : Tips Membuat Puisi Bagi Seorang Pemula

Demikianlah beberapa jenis autis yang umum dikenali secara medis. Lewat tulisan ini, semoga Anda mendapatkan wawasan baru sekaligus memiliki panduan untuk memperhatikan tumbuh kembang anak, khususnya di usia balita.

Namun yang paling penting, lewat tulisan ini Anda bisa tercerahkan bahwa autisme adalah kondisi, bukan penyakit.